Determinan sosial

BAB 1

PENDAHULUAN

              

1.1  Latar Belakang

 Kondisi sosial di mana orang tinggal kuat infuence mereka peluang untuk menjadi sehat. Memang faktor-faktor seperti kemiskinan, kerawanan pangan, sosial pengucilan dan diskriminasi, perumahan yang buruk, awal yang tidak sehat masa kecil kondisi dan status pekerjaan rendah adalah penting penentu kebanyakan penyakit, kematian dan kesenjangan kesehatan (Organisasi Kesehatan Dunia [WHO]).

Kesehatan dipengaruhi, baik secara positif maupun negatif, akibat berbagai faktor. Beberapa faktor-faktor ini genetik atau biologis dan relatif tetap. ‘Sosial penentu dari health’arise dari kondisi sosial dan ekonomi di mana kita hidup dan tidak jadi tetap. Jenis perumahan dan lingkungan kita hidup, kesehatan atau pendidikan layanan yang kami memiliki akses ke, pendapatan kita bisa menghasilkan dan jenis pekerjaan yang kita lakukan, misalnya, semua dapat mempengaruhi kesehatan kita, dan keputusan gaya hidup yang kita buat.

Berbagai faktor telah diidentifikasi sebagai faktor penentu sosial dari kesehatan dan ini umumnya meliputi : konteks sosial-ekonomi yang lebih luas; ketimpangan, kemiskinan, sosial eksklusi; sosial ekonomi posisi; pendapatan; kebijakan publik; pelayanan kesehatan; pekerjaan, pendidikan, perumahan, transportasi, lingkungan dibangun; perilaku kesehatan atau gaya hidup, sosial dan jaringan dukungan masyarakat dan stres. Sebuah kursus kehidupan perspektif menyediakan kerangka kerja untuk memahami bagaimana determinan sosial kesehatan bentuk dan pengaruh kesehatan individu sejak lahir sampai usia lanjut.

Orang yang kurang kaya atau yang menjadi milik kelompok sosial dikecualikan cenderung tarif parah sehubungan dengan determinan sosial ini. Sebagai contoh mereka mungkin memiliki lebih rendah pendapatan, pendidikan yang lebih miskin, kesempatan kerja yang lebih sedikit atau lebih genting dan / atau kondisi kerja yang lebih berbahaya atau mereka mungkin tinggal di perumahan miskin atau kurang sehat lingkungan dengan akses ke layanan atau fasilitas yang lebih miskin dari mereka yang lebih baik semuanya terkait dengan kesehatan miskin.

Sedangkan jalur yang tepat melalui determinan sosial mempengaruhi kesehatan tidak jelas dan merupakan subyek melanjutkan penelitian, penting untuk dicatat bahwa :(1) faktor-faktor penentu Sosial berkontribusi terhadap kesenjangan kesehatan antara kelompok-kelompok sosial. Ini adalah karena efek dari faktor penentu sosial dari kesehatan tidak merata atau cukup di masyarakat.(2) faktor sosial dapat mempengaruhi kesehatan baik secara langsung maupun tidak langsung. Misalnya perumahan lembab langsung dapat berkontribusi untuk gangguan pernapasan, sedangkan pendidikan Kerugian dapat membatasi akses terhadap pekerjaan, meningkatkan risiko kemiskinan dan nya merugikan dampak pada kesehatan.(3) faktor-faktor penentu sosial dari kesehatan saling berhubungan. Misalnya kemiskinan terkait untuk perumahan yang buruk, akses ke pelayanan kesehatan atau diet, semua yang pada gilirannya terkait dengan kesehatan.(4) faktor-faktor penentu sosial beroperasi pada tingkat yang berbeda. Masalah struktural, seperti kebijakan sosial ekonomi atau ketimpangan pendapatan, sering disebut ‘upstream’factors. Downstream’factors Sementara ‘seperti merokok atau stres beroperasi pada tingkat individu dan dapat dipengaruhi oleh faktor-faktor hulu.

Upaya untuk mengatasi ketidaksetaraan dalam kesehatan harus mengatasi cara di mana sosial faktor penentu kesehatan yang didistribusikan secara tidak adil. Mengatasi faktor penentu sosial kesehatan menunjukkan ‘melampaui penyebab langsung disease‘and menempatkan kuat fokus pada faktor-faktor hulu, atau fundamental “penyebab penyebab ‘(WHO CSDH, 2007).

Sebagai Fran Baum, salah satu Komisaris WHO pada Determinan Sosial Kesehatan, telah menunjukkan, pemerintah perlu komitmen terhadap nilai-nilai kejujuran dan keadilan dan kemampuan untuk menanggapi kompleksitas faktor penentu sosial dari kesehatan ‘luar mendesak individu untuk mengubah perilaku mereka “(Baum 2007:90).

Deklarasi Alma Ata tahun 1978 mencanangkan cita-cita kesehatan untuk semua (“Health for All”) penduduk di dunia. Faktanya lebih dari tiga dasawarsa sejak deklarasi tersebut, tujuan kesehatan untuk semua bagi seluruh penduduk di dunia dan di sebuah negara belum tercapai. Di dunia saat ini hanya satu milyar dari 6.2 milyar orang yang dapat menikmati umur panjang dan hidup sehat. Karena itu tantangan terbesar sekarang adalah menemukan strategi untuk membantu lima milyar orang lainnya untuk dapat hidup lebih lama dan lebih sehat. Perlu ditemukan pendekatan kebijakan sistemik yang efektif untuk mengurangi jurang ketidakadilan kesehatan (health inequity) yang terkait dengan ketimpangan sosial, dan ketidaksetaraan kesehatan(health inequality), antar populasi di berbagai negara, maupun antar populasi di berbagai wilayah di suatu negara.

Epidemiologi sosial mengingatkan bahwa faktor-faktor sosial ekonomi dan materi, seperti pengeluaran pemerintah yang rendah untuk pembangunan dan pelayanan sosial, ketimpangan distribusi pendapatan dan sumberdaya lainnya di dalam masyarakat, akses buruk terhadap pelayanan kesehatan, ketiadaan proteksi finansial terhadap penggunaan pelayanan kesehatan, pendidikan yang buruk, pengangguran, kemiskinan, lingkungan tempat tinggal buruk, lingkungan tempat kerja yang buruk, mempengaruhi tingkat kesehatan dan terjadinya penyakit pada populasi (Model sosial kesehatan Dahlgren dan Whitehead, 1991 pada Gambar 1). Ketidakadilan kesehatan dan ketidaksetaraan kesehatan antar kelompok-kelompok dalam populasi dibentuk oleh struktur sosial, politik, ekonomi dalam sebuah negara. Dampak dari ketidakadilan struktur politik, sosial, dan ekionomi terhadap ketidakadilan kesehatan diperburuk oleh “toxic policy”, yakni kebijakan politik, ekonomi, dan sosial  yang buruk, baik di tingkat global, nasional, maupun lokal.

 

 Gambar 1  Model determinan sosial kesehatan

(Sumber: Dahlgren dan Whitehead, 1991)

Merespons ketidakadilan kesehatan populasi, maka pada tahun 2008 Komisi Determinan Sosial Kesehatan (CSDH) WHO memberikan rekomendasi kepada semua negara anggota untuk melakukan langkah-langkah intervensi dan advokasi kebijakan sebagai berikut:

  1. Memperbaiki kondisi kehidupan masyarakat sehari-hari
    1. Mengatasi ketidakadilan distribusi kekuasaan, uang, dan sumberdaya lainnya
    2. Mengukur dan memahami permasalahan, serta menilai dampak langkah-langkah intervensi

 

Rekomendasi determinan sosial kesehatan yang terletak di luar sektor kesehatan (beyond the health sector) diharapkan menghasilkan sistem kesehatan yang paripurna dan mampu menutup  jurang ketidaksetaraan kesehatan. Di dalam sistem kesehatan yang paripurna, para pemangku kepentingan, baik pembuat kebijakan di lembaga pemerintah, politisi di lembaga legislatif, pelaku swasta, dan masyarakat, diharapkan memahami pentingnya determinan sosial kesehatan, selanjutnya merencanakan dan mengimplementasikan upaya kesehatan yang tepat untuk  mencapai keadilan dan kesetaraan kesehatan populasi.

Dengan latar belakang tersebut, Jaringan Epidemiologi Nasional (JEN) akan menyelenggarakan pertemuan ilmiah dalam Kongres ke 14, dengan tema “Epidemiologi sosial dalam mendukung pelayanan kesehatan primer”. Berbagai informasi dari kajian, studi empiris, dan pengalaman praktis terkait tema tersebut akan dibahas. Hasilnya diharapkan dapat menjadi bukti ilmiah untuk mendukung pelayanan kesehatan primer. Kesimpulan dari pertemuan diharapkan  dapat menjadi masukan bagi pembuat kebijakan untuk mempertimbangkan determinan sosial kesehatan dalam mereformasi dan mengembangkan sistem kesehatan di Indonesia yang lebih baik.

Masalah kesehatan merupakan salah satu faktor yang berperan penting dalam mewujudkan sumber daya manusia yang berkualitas. Melalui pembangunan di bidang kesehatan diharapkan akan semakin meningkatkan tingkat kesehatan masyarakat dan pelayanan kesehatan dapat dirasakan oleh semua lapisan masyarakat secara memadai (Dinas Kesehatan, 2007). Berhasilnya pembangunan kesehatan ditandai dengan lingkungan yang kondusif, perilaku masyarakat yang proaktif untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan serta mencegah terjadinya penyakit, pelayanan kesehatan yang berhasil dan berdaya guna tersebar merata di seluruh wilayah Indonesia.Akan tetapi pada kenyataanya, pembangunan kesehatan di Indonesia masih jauh dari yang diharapkan. Permasalahan-permasalahan kesehatan masih banyak terjadi. Beberapa diantaranya adalah: penyakit-penyakit seperti DBD, flu burung, dan sebagainya yang semakin menyebar luas, kasus-kasus gizi buruk yang semakin marak khususnya di wilayah Indonesia Timur, prioritas kesehatan rendah, serta tingkat pencemaran lingkungan yang semakin tinggi.

Sebagian masyarakat berpendapat bahwa kebijakan pemerintah lah yang salah, sehingga masalah-masalah kesehatan di Indonesia seakan tak ada ujungnya. Akan tetapi, kita tidak bisa hanya menyalahkan pemerintah saja dalam hal ini. Karena bagaimanapun juga, sebenarnya individu yang menjadi faktor penentu dalam menentukan status kesehatan. Dengan kata lain, selain pemerintah masih banyak lagi faktor-faktor atau determinan yang mempengaruhi status kesehatan masyarakat.

 

1.2  Perumusan Masalah

Dengan menimbang latar belakang penelitian yang telah kami kemukakan, maka kami mengidentifikasikan masalah sebagai berikut :

  1. Apa faktor-faktor yang mempengaruhi derajat kesehatan masyarakat ?
  2. Apa kaitan teori Blum dengan status kesehatan masyarakat ?
  3. Upaya-upaya apa untuk meningkatkan status kesehatan masyarakat seseorang ?

1.3  Tujuan

 Adapun tujuan dari pembahasan makalah ini :

  1.   Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi derajat kesehatan masyarakat.
  2.   Mengetahui upaya-upaya apa yang dapat digunakan untuk           meningkatkan status kesehatan masyarakat.
  3.   Mengetahui hubungan konsep Blum dengan status kesehatan masyarakat.

1.4  Pembatasan Masalah

Karena banyaknya ruang lingkup pembahasan mengenai makalah ini, terutama yang berkaitan dengan DETERMINAN YANG MEMPENGRUHI STATUS KESEHATAN MASYARAKAT. Maka kami hanya membatasi ruang lingkup pada konsep Blum dalam kesehatan masyarakat. Dengan demikian pembahasan dalam makalah ini hanya mencakup judul diatas.

1.5  Sistematika Penulisan

Metode pembahasan makalah yang kami gunakan dalam penulisan makalah ini adalah metode penelitian kajian pustaka, yang bersifat seperti berikut :

1) Diskriftis Analitis,

2) Eksplanasi(penerangan),

Dan kesimpulan yang ditarik hanya berlaku untuk elemen-elemen yang kami dapatkan.

 

BAB II

DETERMINAN KESEHATAN

 2.1 Pengertian Kesehatan

Sehat adalah kondisi normal dimana seseorang bisa melakukan aktivitas hidupnya dengan lancar dan tanpa gangguan. Selama beberapa dekade, definisi sehat masih diperbincangkan dan belum ada kata sepakat dari para ahli kesehatan maupun tokoh masyarakat dunia. Akhirnya World Health Organization (WHO) membuat definisi universal yang menyatakan bahwa “sehat adalah suatu keadaan yang sempurna baik secara fisik, mental, dan sosial serta tidak hanya tebebas dari penyakit atau kelemahan” (WHO, 1947)

Menurut WHO, kesehatan mencakup 3 aspek, yakni: kesehatan jasmani, kesehatan rohani, dan kesehatan sosial. Konsep sehat ini tidak jauh dengan konsep sehat yang tertuang dalam UU No. 23 tahun 1992 tentang kesehatan yang menyatakan bahwa kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa, dan sosial yang memungkinkan hidup produktif secara sosial dan ekonomi. Dalam pengertian ini maka kesehatan harus dilihat sebagai satu kesatuan yang utuh terdiri dari unsur-unsur fisik, mental, dan sosial serta di dalamnya kesehatan jiwa yang merupakan bagian integral kesehatan.

Sehat memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis. Banyak sekali hal yang mempengaruhi kesehatan kita, yang mungkin kita tidak sadari bahwa hal-hal yang berada di sekitar kita adalah faktor-faktor utama yang mempengaruhi kesehatan.Banyak sekali teori-teori yang menjelaskan tentang faktor-faktor yang mempengaruhi kesehatan, namun teori yang paling banyak digunakan adalah teori Blum.

2.2 Teori Blum

Konsep hidup sehat H.L.Blum sampai saat ini masih relevan untuk diterapkan.Kondisi sehat secara holistik bukan saja kondisi sehat secara fisik melainkan juga spiritual dan sosial dalam bermasyarakat.Untuk menciptakan kondisi sehat seperti ini diperlukan suatu keharmonisan dalam menjaga kesehatan tubuh.H.L Blum menjelaskan ada empat faktor utama yang mempengaruhi derajat kesehatan masyarakat.Keempat faktor tersebut merupakan faktor determinan timbulnya masalah kesehatan.

Keempat faktor tersebut terdiri dari faktor perilaku/gaya hidup (life style), faktor lingkungan (sosial, ekonomi, politik, budaya), faktor pelayanan kesehatan (jenis cakupan dan kualitasnya) dan faktor genetik (keturunan).Keempat faktor tersebut saling berinteraksi yang mempengaruhi kesehatan perorangan dan derajat kesehatan masyarakat.Diantara faktor tersebut faktor perilaku manusia merupakan faktor determinan yang paling besar dan paling sukar ditanggulangi, disusul dengan faktor lingkungan.Hal ini disebabkan karena faktor perilaku yang lebih dominan dibandingkan dengan faktor lingkungan karena lingkungan hidup manusia juga sangat dipengaruhi oleh perilaku masyarakat.

                                           Ilustrasi konsep blum

Semua Negara di dunia menggunakan konsep Blum dalam menjaga kesehatan warga negaranya.Untuk Negara maju saat ini sudah fokus pada peningkatan kualitas sumber daya manusia. Sehingga asupan makanan anak-anak mereka begitu dijaga dari segi gizi sehingga akan melahirkan keturunan yang berbobot. Kondisi yang berseberangan dialami Indonesia sebagai Negara agraris, segala regulasi pemerintah tentang kesehatan malah fokus pada penanggulangan kekurangan gizi masyarakatnya. Bahkan dilematisnya banyak masyarakat kota yang mengalami kekurangan gizi.

Padahal dari hasil penelitian membuktikan wilayah Indonesia potensial sebagai lahan pangan dan perternakan karena wilayahnya yang luas dengan topografi yang mendukung. Ada apa dengan pemerintah?.Satu jawaban yang pasti seringkali dalam analisis kesehatan pemerintah kurang mempertimbangkan pendapat ahli kesehatan masyarakat  (public health)   sehingga kebijakan yang dibuat cuma dari sudut pandang  kejadian sehat-sakit.

Dalam konsep Blum ada 4 faktor determinan yang dikaji, masing-masing faktor saling keterkaitan berikut penjelasannya :

1. Perilaku masyarakat

Perilaku masyarakat dalam menjaga kesehatan sangat memegang peranan penting untuk mewujudkan Indonesia Sehat 2010.Hal ini dikarenakan budaya hidup bersih dan sehat harus dapat dimunculkan dari dalam diri masyarakat untuk menjaga kesehatannya.Diperlukan suatu program untuk menggerakan masyarakat menuju satu misi Indonesia Sehat 2010. Sebagai tenaga motorik tersebut adalah orang yang memiliki kompetensi dalam menggerakan masyarakat dan paham akan nilai kesehatan masyarakat. Masyarakat yang berperilaku hidup bersih dan sehat akan menghasilkan budaya menjaga lingkungan yang bersih dan sehat.

Beberapa kegiatan yang mungkin kita lakukan seperti: berolah raga, tidur, merokok, minum, dll. Apabila kita mengembangkan kebiasaan yang bagus dari sejak awal, hal tersebut berpengaruh positif terhadap kesehatan tubuh.Sekali-kali atau dalam batas-batas tertentu untuk waktu yang lebih lama, kita bebas melakukan kebiasaan-kebiasaan harian.Namun, bagaimanapun juga sikap yang tidak berlebihan merupakan suatu keharusan agar benar-benar sehat.Tubuh kita memerlukan tidur, olah raga, dan rutinitas yang sehat dalam jumlah tertentu untuk mempertahankan kesejahteraannya.

 

2. Lingkungan

Berbicara mengenai lingkungan sering kali kita meninjau dari kondisi fisik.Lingkungan yang memiliki kondisi sanitasi buruk dapat menjadi sumber berkembangnya penyakit.Hal ini jelas membahayakan kesehatan masyarakat kita. Terjadinya penumpukan sampah yang tidak dapat dikelola dengan baik, polusi udara, air dan tanah juga dapat menjadi penyebab. Upaya menjaga lingkungan menjadi tanggung jawab semua pihak untuk itulah perlu kesadaran semua pihak.

Disamping lingkungan fisik juga ada lingkungan sosial yang berperan. Sebagai mahluk sosial kita membutuhkan bantuan orang lain, sehingga interaksi individu satu dengan yang lainnya harus terjalin dengan baik. Kondisi lingkungan sosial yang buruk dapat menimbulkan masalah kejiwaan.

3. Pelayanan kesehatan

Kondisi pelayanan kesehatan juga menunjang derajat kesehatan masyarakat.Pelayanan kesehatan yang berkualitas sangatlah dibutuhkan.Masyarakat membutuhkan posyandu, puskesmas, rumah sakit dan pelayanan kesehatan lainnya untuk membantu dalam mendapatkan pengobatan dan perawatan kesehatan.Terutama untuk pelayanan kesehatan dasar yang memang banyak dibutuhkan masyarakat.Kualitas dan kuantitas sumber daya manusia di bidang kesehatan juga mesti ditingkatkan.

Puskesmas sebagai garda terdepan dalam pelayanan kesehatan masyarakat sangat besar perananya.sebab di puskesmaslah akan ditangani masyarakat yang membutuhkan edukasi dan perawatan primer. Peranan Sarjana Kesehatan Masyarakat sebagai manager yang memiliki kompetensi di bidang manajemen kesehatan dibutuhkan dalam menyusun program-program kesehatan.Utamanya program-program pencegahan penyakit yang bersifat preventif sehingga masyarakat tidaka banyak yang jatuh sakit.

Banyak kejadian kematian yang seharusnya dapat dicegah seperti diare, demam berdarah, malaria, dan penyakit degeneratif yang berkembang saat ini seperti jantung karoner, stroke, diabetes militus dan lainnya.penyakit itu dapat dengan mudah dicegah asalkan masyarakat paham dan melakukan nasehat dalam menjaga kondisi lingkungan dan kesehatannya.

4. Genetik

Seperti apa keturunan generasi muda yang diinginkan. Pertanyaan itu menjadi kunci dalam mengetahui harapan yang akan datang. Nasib suatu bangsa ditentukan oleh kualitas generasi mudanya.Oleh sebab itu kita harus terus meningkatkan kualitas generasi muda kita agar mereka mampu berkompetisi dan memiliki kreatifitas tinggi dalam membangun bangsanya.

Dalam hal ini kita harus memperhatikan status gizi balita sebab pada masa inilah perkembangan otak anak yang menjadi asset kita dimasa mendatang.Namun masih banyak saja anak Indonesia yang status gizinya kurang bahkan buruk.Padahal potensi alam Indonesia cukup mendukung.oleh sebab itulah program penanggulangan kekurangan gizi dan peningkatan status gizi masyarakat masih tetap diperlukan. Utamanya program Posyandu yang biasanya dilaksanakan di tingkat RT/RW. Dengan berjalannya program ini maka akan terdeteksi secara dini status gizi masyarakat dan cepat dapat tertangani.

2.3 Determinan yang mempengaruhi status kesehatan

Teori klasik yang dikembangkan oleh Blum (1974) mengatakan bahwa adanya 4 determinan utama yang mempengaruhi derajat kesehatan individu, kelompok atau masyarakat. Empat determinan tersebut secara berturut-turut besarnya pengaruh terhadap kesehatan adalah: a). lingkungan, b). perilaku, c). pelayanan kesehatan, dan d).keturunan atau herediter. Keempat determinan tersebut adalah determinan untuk kesehatan kelompok atau komunitas yang kemungkinan sama di kalangan masyarakat. Akan tetapi untuk kesehatan individu, disamping empat faktor tersebut,  faktor internal individu juga berperan, misalnya : umur, gender, pendidikan, dan sebagainya, disamping faktor herediter. Bila kita analisis lebih lanjut determinan kesehatan itu sebenarnya adalah semua faktor diluar kehidupan manusia, baik secara individual, kelompok, maupun komunitas yang secara langsung atau tidak langsung mempengaruhi kehidupan manusia itu. Hal ini berarti, disamping determinan-determinan derajat kesehatan yang telah dirumuskan oleh Blum tersebut masih terdapat faktor lain yang mempengaruhi atau menentukan terwujudnya kesehatan seseorang, kelompok atau masyarakat.

  1. Faktor makanan

Makanan merupakan faktor penting dalam kesehatan kita. Bayi lahir dari seorang ibu yang telah siap dengan persediaan susu yang merupakan makanan lengkap untuk seorang bayi. Mereka yang memelihara tubuhnya dengan makanan yang cocok, menikmati tubuh yang benar-benar sehat.Kecocokan makanan ini menurut waktu, jumlah, dan harga yang tepat. Hanya saat kita makan secara berlebihan makanan yang tidak cocok dengan tubuh kita, maka tubuh akan bereaksi sebaliknya. Sakit adalah salah satu reaksi tubuh, dan bila kemudian dicegah atau dirawat dengan benar, tubuh kembali sehat.Penyakit merupakan peringatan untuk mengubah kebiasaan kita.Perlu diingat selalu bahwa tubuh kita hanya memerlukan makanan yang tepat dalam jumlah yang sesuai.

  1. Pendidikan atau tingkat pengetahuan

Tingkat pengetahuan akan membentuk cara berpikir dan kemampuan seseorang untuk memahami faktor-faktor yang berhubungan dengan penyakit dan menggunakan pengetahuan tersebut untuk menjaga kesehatannya. Pendidikan juga secara tidak langsung akan mempengaruhi perilaku seseorang dalam menjaga kesehatannya. Biasanya, orang yang berpendidikan (dalam hal ini orang yang menempuh pendidikan formal) mempunyai resiko lebih kecil terkena penyakit atau masalah kesehatan lainnya dibandingkan dengan masyarakat yang awam dengan kesehatan.

  1. Faktor sosioekonomi

Faktor-faktor sosial dan ekonomi seperti lingkungan sosial, tingkat pendapatan, pekerjaan, dan ketahanan pangan dalam keluarga merupakan faktor yang berpengaruh besar pada penentuan derajat kesehatan seseorang.Dalam masalah gizi buruk misalnya, masyarakat dengan tingkat ekonomi dan berpendapatan rendah biasanya lebih rentan menderita gizi buruk.Hal tersebut bisa terjadi karena orang dengan tingkat ekonomi rendah sulit untuk mendapatkan makanan dengan nilai gizi yang bisa dibilang layak.

  1. Latar belakang budaya

Latar belakang budaya mempengaruhi keyakinan, nilai, dan kebiasaan individu, termasuk sistem pelayanan kesehatan dan cara pelaksanaan kesehatan pribadi. Indonesia yang terbentang dari Sabang sampai Merauke memiliki beribu-ribu suku dengan adat istiadat yang berbeda-beda  pula. Sebagian dari adat istiadat tersebut ada yang masih bisa dibilang “primitif” dan tidak mempedulikan aspek kesehatan.Misalnya saja, pada suku Baduy yang tidak memperbolehkan masyarakat menggunakan alas kaki.

  1. Usia

Setiap rentang usia (bayi-lansia) memiliki pemahaman dan respon yang berbeda-beda terhadap perubahan kesehatan yang terjadi.

1.   Faktor emosional

Setiap pemikiran positif akan sangat berpengaruh, pikiran yang sehat dan bahagia semakin meningkatkan kesehatan tubuh kita. Tidak sulit memahami pengaruh dari pikiran terhadap kesehatan kita.Yang diperlukan hanyalah usaha mengembangkan sikap yang benar agar tercapai kesejahteraan.

  1. Faktor agama dan keyakinan

Agama dan kepercayaan yang dianut oleh seorang individu secara tidak langsung mempengaruhi perilaku kita dalam berperilaku sehat.Misalnya, pada agama Islam.Islam mengajarkan bahwa “anna ghafatul minal iman” atau “kebersihan adalah sebagian dari iman”. Sebagai umat muslim, tentu kita akan melaksanakan perintah Allah SWT. untuk berperilaku bersih dan sehat.

BAB III

PENUTUP

 


3.1 Kesimpulan

       Untuk mencapai status kesehatan yang baik, baik fisik, mental maupun kesejahteraan sosial, setiap individu atau kelompok harus mampu mengidentifikasi setiap aspirasi, untuk memenuhi kebutuhan, dan mengubah atau mengantisipasi keadaan lingkungan agar menjadi lebih baik. Kesehatan, sebagai sumber kehidupan sehari-hari, bukan sekedar tujuan hidup. Kesehatan merupakan konsep yang positifyang menekankan pada sumber-sumber sosial dan personal. Dengan teori Blum ini kita dapat memperbaiki kondisi lingkungan yang buruk, dan juga hal-hal yang dapat mempengaruhi status kesehatan. Seperti dengan cara memperbaiki 4 aspek utama determinan kesehatan, yaitu genetik, lingkungan, perilaku dan pelayanan kesehatan.

 

3.2 Saran

Melihat kondisi kesehatan dan kesadaran masyarakat terhadap kesehatan, maka perlu peran aktif semua pihak dalam mengatasi masalah kesehatan masyarakat,.Penyedia layanan kesehatan, masyarakat, pemerintah dan perusahaan perlu menjabarkan peta jalan pengembangan kesehatan masyarakat secara terpadu dan berkelanjutan. Mengingat wilayah Indonesia sangat luas, dibutuhkan kerjasama dalam merumuskan dan mengembangkan program kesehatan masyarakat sesuai karakteristik daerah setempat sehingga tahap perubahan menuju masyarakat sehat  dalam pengelolaan kesehatan masyarakat menjadi bagian kesadaran dan pengetahuan masyarakat dan pada akhirnya memiliki self belonging bahwa kesehatan merupakan milik dan tanggung jawab bersama. Selain itu, pola penyegaran, pembinaan, pemberdayaan dan penguatan jaringan organisasi Puskesmas, Poskesdes, Posyandu, UKS/UKGS dan PMR sangatlah penting didalam mengembangkan sistem kesehatan masyarakat dengan tujuan menuju masyarakat sehat dan sejalan dengan melibatkan masyarakat semaksimal mungkin. Dengan partisipasi semaksimal mungkin dari organisasi aktif yang berada di masyarakat seperti Kader Posyandu, PKK, Taruna Karya, Pramuka, Sarjana Penggerak Pedesaan dan organisasi lainnya serta didukung oleh MUSPIDA setempat.

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Prof. Dr. Soekidjo Notoatmodjo. (2003) Prinsip-Prinsip Dasar Ilmu Kesehatan Masyarakat.  Jakarta : Rineka Cipta.

 

Jurnal kedokteran indonesia, vol. 2/no. 1/januari/2011 Lisa F. Berkman (Editor), Ichiro Kawachi (Editor) Social Epidemiology, Oxford University Press, USA, Pertama 391 halaman

 

Jurnal makara, sosial humaniora, vol. 7, no. 2, desember 2003: 71

Bob WawoRuntu, Determinan kepemimpinan Departemen Ilmu Administrasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia, Depok 16424, Indonesia

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: